MEMBALAS BUDI

Gambar ilustrasi Kunthi menghibur Nakula dan Sadewa yang kelaparan (karya Herjaka HS).

Membalas Budi

Mendengar penuturan mimpi Rara Winihan, para bebahu desa Kabayakan tersebut mulai timbul keberaniannya. Mereka sepakat untuk tidak menyediakan korban bagi Prabu Baka. Rara Winihan menyarankan agar salah satu bebahu desa menghadap Resi Hijrapa di padepokan Giripurwa, untuk memohon agar Resi Hijrapa berani menolak korban untuk Prabu Baka. Dua orang bebahu desa segera berangkat menuju ke rumah Resi Hijrapa.

Kembali kepada Kunthi yang sedang menunggui anaknya Nakula dan Sadewa yang kelaparan. Hati Kunthi teriris-iris melihat Nakula dan Sadewa menangis kelaparan. Hingga terucap dalam bibirnya yang pecah dan kering. Jika pun aku harus mengiris dagingku demi untuk Nakula dan Sadewa, aku akan lakukan. Kunthi semakin gelisah menghadapi tangis Nakula dan Sadewa yang semakin serak. Walupun Kunthi sudah mengutus Bima dan Arjuna untuk mencari makan bagi si kembar, Kunthi masih berupaya untuk mendapatkan makanan secepatnya, agar tangis si kembar segera berhenti. Pada saat mengbibur si Kembar, Kunthi mendengar ada suara di dalam rumah yang sebelumnya dikira tidak berpenghuni.

“Puntadewa ke sinilah, rupanya ada orang sengaja bersembunyi di dalam rumah ini. Coba dengarlah baik-baik. Tidak salahkah pendengaranku bahwa ada beberapa orang sedang berbicara? Tolong Punta temui mereka, siapa tahu ada makanan yang dapat dibagikan untuk Nakula dan Sadewa. Puntadewa bergegas pergi menemui orang yang berdialog di rumah dalam. Kunthi tinggal sendirian menunggui anak kembarnya yang merengek menyedihkan. Tak lama kemudian Puntadewa datang dengan membawa sedikit makanan dan minuman. Makanan tersebut sedikit untuk ukuran orang dewasa, juga belum mencukupi untuk ukuran anak-anak. Namun makanan yang didapat dari pemilik rumah tersebut sungguh dapat menolong untuk sementara, sembari menunggu usaha Bima dan Arjuna.

Tak beberapa lama makanan yang sedikit itu segera habis. Nakula dan Sadewa masih lapar, namun sudah tidak menangis lagi. Kunthi sangat lega, ingin mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah yang telah menyambung nyawa anak kembarnya. Dengan membawa Nakula Sadewa dan diiringi Puntadewa, Kunthi menemui si pemilik rumah yang bernama Resi Hijrapa.

“Dengan apakah kami harus membalas? Jika tidak sekarang, nanti pasti aku balas kebaikan Sang Resi. Karena jika kebaikan itu tidak aku balas, aku seperti seorang pepriman yang kerjanya ke sana-ke mari hanya untuk minta-minta.

Resi Hijrapa tersenyum getir mendengar pernyataan Kunthi. Di jaman seperti ini, masih adakah seseorang yang merasa wajib untuk membalas budi? Tentu saja semua orang tua bisa berbicara seperti apa yang dikatakan oleh ibu setengah baya tersebut, atas nama kebaikan budi, manakala anaknya dibebaskan dari bahaya kelaparan, kesakitan atau pun kematian. Namun jika bahaya kematian masih mengacam anaknya, masihkah orang tua itu mampu berbicara tentang kebaikan budi? Jikapun pernyataan ibu setengah baya tersebut sungguh-sungguh, tidak sekedar basa-basi, apakah ia dapat gantian membebaskan anaknya dari bahaya kematian? Jika dapat, tentunya gantian aku yang mebicarakan tentang kebaikan budi.

Resi Hijrapa adalah pengasuh sebuah Padepokan yang berada di wilayah Giripurwa. Ia hidup bersama isteri dan tiga anaknya. Sebelumnya, rumah besar ini menjadi pusat kegiatan cantrik-cantriknya. Namun sayang, sekarang rumah besar tersebut menjadi tidak terurus. Tidak ada lagi cantrik yang datang. Tinggal Resi Hijrapa dan keluarga yang menunggui rumah itu. Itu pun bersembunyi di ruang paling dalam, takut jika diketahui oleh perajurit Ekacakra.

Kelemahan Resi Hijrapa itulah yang menyebabkan para cantrik-cantriknya tidak lagi berguru kepada Resi Hijrapa. Mereka kecewa kepada gurunya yang takut membela para korban kekejaman Prabu Baka. Bahkan ketika Resi Hijrapa pada gilirannya diharuskan mengorbankan salah satu anaknya untuk Prabu Baka, Resi Hijrapa tidak berani menolak. Maka kecuali keluarganya, hampir semua warga giripurwa termasuk cantrik-cantriknya mengungsi ke negara Pancalradya

Oleh karenanya kedatangan enam orang asing di rumahnya membuat hati Resi Hijrapa berkurang ketakuatannya. Mereka untuk sementara waktu boleh menempati di rumah depan. Kunthi mengucap terimakasih atas kebaikannnya.

Menjelang sore hari Arjuna datang dengan membawa dua bungkus nasi. Kunthi tidak berkenan dengan cerita Harjuna. Dua bungkus nasi ditolaknya, karena dua bungkus nasi tersebut didapatkannya dengan cara meminta belas kasihan dari seseorang? Aku tidak mau darah anakku akan mengalir darah seorang pepriman yang pekerjaannya meminta-minta. Harjuna diam, ia meletakan dua bungkus nasi tersebut di depan kaki Ibu Kunthi. Sebelum Kunthi mengambil tindakan mau diapakan nasi hasil dari minta-minta tersebut, Bima datang dengan membawa dua bungkus nasi. Kepada Ibu Kunthi, Bima bercerita tentang para pengungsi yang memberikan sebagian dari bekalnya karena telah ditolong dan diselamatkan. Kunthi menerima dua bungkus nasi dari tangan Bimasena.

Sementara itu hampir bersamaan Nakula dan Sadewa yang masih merasa lapar segera mengambil bungkusan nasi dan kemudian memakannya. Nakula mengambil bungkusan nasi yang dibawa Arjuna sedangkan Sadewa memakan nasi yang dibawa Bimasena. Kunthi membiarkannya nasi yang dibawa Arjuna dimakan oleh Nakula. Namun hal itu merupakan hutang budi kepada orang yang memberi. Dan tentunya ia akan beruasaha membalasnya seperti yang akan dilakukan kepada Resi Hijrapa

herjaka HS.
Artikel ini diambil dari http://wayang.wordpress.com/2010/03/07/kidung-malam-60-membalas-budi/#more-1719
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
coompax-digital magazine